Film Asing ga ada, Indonesia Heboh !

MPA Tarik Peredaran bukan karena Materi

Dua hari yang lalu tepatnya pada 17 Februari 2011, akun Twitter saya ramai oleh TimeLine yang berisi soal akan ditariknya film asing di Indonesia. Berbagai tanggapanpun dilontarkan dari pengguna akun twitter lainnya. Sebenarnya, hal ini jelas membuat pecinta film merasa sangat dirugikan dengan tidak hadirnya film asing di bioskop Indonesia. Kenapa, jelas saat ini menurut yang saya baca di Kompas.com industri film di Indonesia 60 persennya adalah produksi film asing dan sisanya produksi film lokal. Akan ditariknya film asing ini pada awalnya di picu karena keluarnya Kepmen mengenai kenaikan tarif masuk hak edar distribusi yang dikeluarkan oleh Dirjen pajak bea dan cukai.  Tanpa banyak penjelasan, dirjen pajak membuat keputusan yang dinilai banyak masyarakat malah merugikan Indonesia. Kalau yang saya baca, lagi lagi dari Kompas.com, menurut Noorca Musardi Jubir 21 Cineplex pihak Motion Picture Association (MPA) yang mewakili perusahaan film asing akan menarik film-film mereka yang telah maupun yang akan beredar di Indonesia. Banyak juga tanggapan yang saya baca di Twitter yang menyalahkan bea cukai yang menaikkan tarif bea masuk 1x lipat dari sebelumnya.Sehingga itu lah yang menyebabkan mereka (MPA) menarik film-filmnya. Padahal, sebenarnya menurut MPA yang saya baca di kaskus, esensi mereka menarik film-film nya adalah karena aturan yang dibuat bea masuk ini tidak lazim dengan prinsip mengenai perfilman di negara manapun, maka itu mereka tidak bisa berkompromi untuk hal ini. Sebenarnya, kalau di pikir secara gampang aja, apa mungkin cuma gara-gara kenaikan tarif aja mereka rela menarik film-filmnya di lahan subur seperti Indonesia ? Saya rasa sii, bukan. Karena mereka (MPA) itu pasti didalamnya banyak orang-orang pintar yang akan mengakali kenaikan tarif ini. Terlebih, pihak 21 cineplex sebelumnya mencoba melakukan negoisasai dengan pihak MPA, namun keputusan MPA sudahbulat untuk tetap menarik peredaran film-film mereka. Saya sendiri tidak begitu paham dengan cara apa mereka mengakalinya. Mungkin salah satunya dengan membebankan harga pada tiket bioskop. Yaa, itu hanya perkiraan saja.

 

Kenapa Indonesia Begitu Takut dengan Absennya Film Asing

Saya salah satunya. Karena tidak bisa dipungkiri kalau perbandingan yang jomplang antara produksi  film asing dan lokal membuat kita, masyarakat Indonesia lebih memilih untuk nonton film asing.  Beberapa alasannya mungkin :

1. Film asing lebih total (mulai dari detail partnya sampe ending filmnya)

2. Film lokal lebih tidak varian dibanding film asing yang berbagai genre.

3. Aktris dan aktor film asing menjadi contoh untuk cineas lokal, cineas lokal mencontoh mereka ( jelas terlihat perbedaan kualitas “penipuannya”).

4. Untuk membuat kita berpikir keras, film asing sukses menciptakan itu, film lokal berhasil membuat kita keras berpikir, kenapa film ngesot-ngesot ini yang dibuat atau kenapa harus ada adegan slow motion yg slalu bisa di tebak arahnya.

5. Orang Indonesia saat ini sudah makin maju, jadi tontonannya pun harus dari negara maju (agak maksa)

Alasan diatas saya buat dari pengalaman saya nonton aja. Meskipun memang bukan maniak film. Dan bukan pemerhati juga.

Jadi, pastinya secara spontanitas orang kita bakal uring-uringan kalau film asing tidak meramaikan layar lebar Indonesia.

 

Indonesia pun Punya Cara

Meskipun banyak rakyatnya yang agak sedih dengan munculnya film-film lokal saja, ternyata Indonesia dipacu untuk siap menghasilkan mahakarya yang super dahsyat menyusul kaburnya film asing. Menurut anggota DPR komisi X, kejadian ini harusnya menjadi kesempatan untuk Indonesia bahwa ruang kosong ini harus di isi dengan tetap menjaga kualitas. Tapi akan tdak berbuah apa-apa jika hanya mengejar target saja tanpa memperhatikan kualitasnya. Dan ini justru akan menjadi bemerang. Lagi, ini saya baca di Kompas.com. Direktur Perfilman Kemenbudpar, Syamsul Lussa menyambut positif hengkangnya film asing di Indonesia. Langkah pemerintah ini menurutnya malah untuk memacu pertumbuhan film Nasional dan mendorong cineas Indonesia menghasilkan karya yang bermutu. Tuturan ini saya baca di Kompas.com, lagi. Ternyata pemerintah malah berusaha mendorong pertumbuhan itu dengan beberapa langkah kebijakan lainnya, seperti membebaskan beberapa bea pajak mulai dari bahan baku, peralatan produksi,  pajak saat proses produksi, hingga untuk penggandaan copy film.

Semoga dengan kebijakan yang telah berlaku sejak 10 Januari 2011 ini, dapat lebih meningkatkan kualitas perfilman nasional sesuai harapan pemerintah dan dapat mengubah pandangan spontan masyarakat Indonesia akan film lokal. Cinta produk Negeri itu perlu, asal benar-benar berbudaya dan patut dibanggakan.

 

Dan Dampaknya…’

Banyak juga yang menyebutkan bahwa DVD akan makin marak peredarannya. Ketika masyarakat Indonesia “haus” akan film asing, cara yang mudahpun sudah jelas menjadi perburuan utama. Dengan apa ? Di pinggir jalan (jarang sii), di pasar malam (kadang-kadang), dan di toko-toko di dalam sebuah mal, terjejer ratusan kepingan DVD yang murah dari berbagai macam jenis dan judul. Lahan yang selama ini berusaha di basmi oleh pemerintah akan kembali berjaya seiring akan melonjaknya permintaan terhadap produk tersebut. Atau mungkin juga ini cara awal untuk mengusir semua produk luar yang ada di Indonesia dan mulai mengikuti cara salah satu negara yang terkenal dengan firewall dan jago niru itu … (terlalu jauh kayanya..*skip aja)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s