What is Life and Love : Lessons from Alice Waters

Ini adalah hasil interview dari Karen Brown dengan Alice Waters, seorang juru masak senior yang terkenal, aktivis, penulis juga pemilik restortan kecil di Amerika  yg di publish di Etsy.com. Aku merasa interview ini telah memberikan pandangan dan pelajaran baru tentang makna dari sebuah kehidupan dan cinta. 

Percakapan ini Aku coba terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia saja yah.. Karena kebetulan hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda, jadi ini juga sekaligus menguji kemampuan ber-Bahasa Indonesia ku dengan baik dan benar.. hhehe

Enjooooy …

‘It’s all about focus on Detail and Relationship’

Karen : Chez Panisse adalah sebuah restoran yang paling Iconic di Amerika, tapi pada awalnya restoran itu sangat sederhana bukan ?

Alice : Sebenarnya aku hanya ingin punya restoran kecil saja untuk teman-teman ku. Karena hampir setiap malam mereka suka datang ke rumah ku untuk sekedar makan malam. Aku memang senang memasak sesuatu untuk mereka, tapi hal itu tidak bisa di jadikan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ku. Karena, pada kenyataannya aku tetap butuh baju baru. Jadi, untuk itu aku berpikir, aku akan membuka sebuah restoran kecil sehingga mereka akan membayar dan tetap bisa menikmati masakan yang aku buat dan aku pun bisa membeli baju baru dan kebutuhan lainnya. Aku ingin restoran yang sederhana, seperti restoran2 di Prancis, sangat-sangat sederhana bahkan tidak masuk dalam kriteria restoran kelas bintang. Dan restoran ini sama sekali tidak menyediakan banyak pilihan makanan. Yang sangat aku inginkan dari restoran kecil ini adalah percakapan yang baik di meja makan, sebuah tempat untuk membuat rencana.

Karen : Alice, di restoran mu ini hanya ada satu menu makanan setiap malamnya. Hal itu sangat tidak lazim, bukan ?

Alice : Iya, itu memang bukan sesuatu yang lazim untuk sebuah restoran. Aku adalah juru masak untuk masakan rumahan dan aku tidak berpikir untuk masak sesuai daftar menu. Aku berpikir jika aku masak hanya dengan satu menu setiap malamnya, itu akan lebih efektif&efisien, sesuai dengan prinsip ekonomi dan tidak perlu membuang atau menyimpan sisa-sisa bahan makanan yang tidak di gunakan. Kita hanya memasak makanan apa yang kita beli di hari itu dan memakan semuanya pada malam hari. Satu hal yang aku tau adalah bahwa memiliki satu jenis menu akan memisahkan restoran ini jauh dari kesan restoran kebanyakan dan membuat nya fokus pada hal yang aku inginkan dari restoran ini, yaitu sebuah percakapan yang baik di meja makan. 

Karen : Tidak seperti koki terkenal lainnya, kamu tidak membuka cabang atau menjual pizza di supermarket. Padahal kamu lebih berpengaruh dari koki terkenal yang memiliki restoran dan membuka cabang untuk restorannya. Kenapa kamu lebih memilih untuk setia pada bisnis yang sudah ada saja ?

Alice : Aku baru saja menangani sendiri bisnis yang aku miliki ! Hal itu menantang ku setiap saat. Aku tidak bisa bayangkan pergi dengan mobil ku ke tempat lain, atau terbang ke berbagai negara. Aku tidak memiliki keahlian manajeman yang baik untuk mengurusi Chez Panisse lainnya. Malah, pada kenyataannya aku membayangkan Chez Panisse bisa lebih kecil lagi dari yang sekarang. 

Karen : Apakah itu karena fokus pada detail nya ?

Alice : Dan sebuah hubungan. Setiap orang yang datang ke restoran butuh waktu yang berkualitas – dan jaman sekarang bisnis itu masih tentang cerita orang dari mulut ke mulut. Jadi, menurut ku sangat penting bisa terlibat secara dekat dengan orang-orang yang bekerja di sini. Kualitas dari Chez Penisse berasal dari orang-orang yang bekerja di sini, dan aku berdiri pada apa yang telah mereka sediakan untuk Chez Penisse. 

Karen : Restoran mu ini sudah merayakan ulang tahunnya yang ke -40. Adakah momen yang paling berkesan untuk mu setelah 40 tahun restoran ini berdiri ?

Alice : Menurut ku semua momen yang aku alami di restoran ini sungguh sangat indah dan berkesan. Tapi menurutku ada satu momen yang merupakan sebuah kehormatan besar bagi karir ku sebagai juru masak, yaitu berbagi makanan di Chez Penisse dengan Dalai Lama. 

‘Do Something for better futures from our heart and our love’

Dalam bagian ini, Karen membahas tentang buku Alice Waters yang berjudul The Art of Simple Food II yang berkaitan dengan sekolah berkebun Edible Schoolyard yang juga di dirikan oleh Alice. 

Karen : Selain hal-hal yang berkaitan dengan resep, buku baru mu The Art of Simple Food II juga ada bahasan tentang berkebun di rumah. 

Alice : Yap, bukunya tentang resep dari kebun. Berkebun membantu kita memahami apa yang kita minta orang lain lakukan untuk kita, berempati dengan petani dan belajar menghargai mereka. Satu-satunya cara nyata untuk membuat resep tersebut adalah memiliki rencana kecil mu sendiri. Dengan begitu kamu akan menyadari betapa istimewanya proses dari tumbuhnya sebuah makanan. 

Karen : Bisakah kamu menceritakan sedikit bagaimana peran mengajar murid-murid, termasuk bagaimana proses berkebun ini selesai di Edible Schoolyard ?

Alice : harus ada sistem penyerapan nilai di sekolah. Misalnya, memberikan makanan gratis kepada murid-murid dan berkebun secara bekelanjutan. Kita dapat mengajarkan semua mata pelajaran kepada murid-murid di Edible Schoolyard ini lewat makanan: Matematika melalui resep masakan, pengetahuan alam melalui semua yang terjadi di kebun dan dapur, improvisasi dalam memasak sebagai sebuah cara untuk  belajar drama, resep-resep sebagai pembelajaran tentang menulis dan memberikan instruksi yang jelas. Dan kemampuan sosial – kita bisa menggunakan kenikmatan dari sebuah makanan untuk mengajarkan murid-murid nilai-nilai yang mereka butuhkan untuk hidup secara bersama-sama.

Karen : Aku mendengar kalau kamu pernah mengatakan bahwa memiliki juru masak terkenal adalah satu hal yang bagus, tapi kita akan benar-benar ada di suatu tempat ketika kita memiliki petani yang terkenal. 

Alice : Aku yakin akan hal itu. Dan juga peternak terkenal, peternak lebah, nelayan, dan semua orang yang menyediakan makanan untuk kita. Orang-orang yang melakukannya dengan benar, kita harus menjaga mereka, dan mengangkat profesi bertani dan bercocok tanam. 

Satu hal yang aku pikirkan setelah membaca ini adalah, kelak aku bisa mengajak Zighraq dan Lentik untuk berkebun bersama di halaman rumah kami nanti 🙂 *Mimpicalonibu*

Tapi untuk sekarang, hal yang bisa kita lakukan dari sedikit cerita Alice Waters adalah menghargai hal-hal kecil di sekeliling kita. Semoga ini bermanfaat..

ohiyaa, ini link aslinya http://www.etsy.com/blog/en/2013/an-interview-with-alice-waters/

Ini Alice dan Murid2 nya sih, aku rasa

Ini Alice dan Murid2 nya sih, aku rasa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s