The pathway for ourselves

brainpickings

The 13 Best Biographies, Memoirs, and History Books of 2013

The best reflection comes from the kindness of the others

Sebelum menulis post ini, paginya aku sudah menuliskan beberapa kalimat yang – setelah aku baca-baca lagi itu kayaknya kacau banget. Jadi, sementara aku simpan di draft dulu. Mungkin, untuk waktu yang lama, aku taruh disana.
Beberapa hari belakangan ini, aku merasa diriku terlalu berlebihan (agak) terhadap sesuatu yang aku rasakan. Menurutku ini dampak yang datang dari dalam diriku sendiri. Terkadang, aku merasa – aku benar – aku sedang kacau – aku terlalu menghayal – aku mencoba tenang – aku yakin – aku tidak mengerti. Semua perasaan itu muncul karena aku tidak sadar apa yang paling diriku butuhkan. Aku melangkah, menjalani hari. Percaya pada diriku sendiri. Saja. Padahal, dari pertama aku memulai hariku, aku sudah lupa akan hal paling dasar yang paling diriku butuhkan. Aku tidak ingat apakah hampir setiap pagi ku, aku mengucap syukur dan membuat niat dalam hati untuk apa yang ingin aku capai di hari itu. Dalam beberapa kesempatan, iya, aku melakukan hal itu. Aku tidak bermaksud mengghumbar, sungguh.

Ketika aku dalam – dont-know-what-to-do mode on, i’m reading. Randomly. Not trying to find a good one. But sometimes, when you already know that yourself is so messed up, the other one of you try to make you better. I dont know how it works. I bet science have explanation about this.
Hari ini aku sama sekali tidak merasa produktif mengerjakan pekerjaan kantor. Aku sudah merasa kacau dari pagi. Maka itu aku pikir, aku tidak akan membawa kekacauan ku ini pada sebuah tanggung jawab yang seharusnya aku selesaikan dengan baik. Sampai pada waktu menjelang senja, aku membaca blog yang dari awal aku membacanya, aku merasa orang ini sangat alami, baik dan apa adanya. Diladifa. Aku sangat suka cara dia menulis dan menyampaikan hal-hal apapun dalam blognya. Cara dia mengatur bahasa dan intonasinya, karena saat aku membacanya, aku seperti merasa ikut dalam situasi yang dia ceritakan. I should learn more from her. Hoping could meet her, soon.

And, at the end i found this that written by diladifa: “good deed never goes wrong. Memulai sesuatu itu harus dengan niat yang baik.” I stopped my read there. That’s needed the most for my self. Sebuah niat baik.
Terima kasih ku yang kedua, kuucapkan untuk Diladifa.

Bagi ku, orang yang baiknya sungguh-sungguh, entah bagaimana, mereka sangat mudah di temukan oleh orang-orang yang paling merasakan manfaat dari kebaikan dan niat baiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s