SAME LOVE

Diriku tidak memberikan penolakan akan hal ini. Pun juga tidak memberikan atau melakukan sesuatu yang bersifat sebagai dukungan. Yang aku tau adalah i’m not a homophobic. Bahkan, akupun tidak tau bagaimana rasa nya menjadi homophobic atau bukan homophobic. Tapi yasudahlah, aku simpulkan sendiri saja bahwa aku Bukan Homophobic.

Aku memiliki sepasang teman gay, kami cukup dekat menjalin pertemanan. Ini sekaligus kali pertama dalam hidup ku merasakan sendiri menjalin pertemanan dengan pasangan gay. Dan aku tidak merasa sama sekali harus menjaga jarak atau bahkan harus menjauh dari mereka. I think it’s just same like the other things. I’d loved to make a friendship. So, that’s what i do. They are lovely person and i loved them. Dan ku rasa banyak juga orang-orang yang berpikiran sama dengan ku (nebak aja sih). Sampai akhirnya, hari Minggu kemarin, aku bertemu dengan dua orang teman lama ku. Teman masa kuliah, dulu. Yang bisa di bilang, ketemunya ini cuma setiap setahun sekali. Aku membuka topik dengan menanyakan kepada salah satu dari mereka, apakah dia oke-oke saja jika memiliki teman gay. Dan…. inilah potongan perbincangan kami, di sore menjelang malam kala itu :

Well, awalnya dia hanya santai menjawab sambil mengangkat sedikit bahunya, “gua cuma takut nular aja”. Kemudian, aku balik bertanya kepadanya dengan nada agak tinggi, “maksudnya nular gimana, penyakit aja ga semuanya bisa nular cuma dari air liur apa lagi ini yang cuma ngbrol, ketawa-tawa doang?” Dia kembali menjelaskan maksudnya, “enggak bukan gitu, maksud gua, lingkungan itu kan berpengaruh, Re. Gua takut aja kalau nanti dia ‘ngajak-ngajak’ gua. Yang jelas, kalau gua tau ada temen gua yang gay, gua ga mau temenan lagi sama orang itu.” Lalu, aku mencoba bernego dengan alasan yang ia berikan, “iyaa, Ji gw setuju kalau lingkungan itu sedikit banyak pasti memberikan pengaruh juga, cuma kan loe ga bisa bilang dengan men-general-kan kalau hal kaya gituan bakal ‘nular’ apalagi jadi malah ngebuat loe gamau menjalin pertemanan dengan orang gay”. Setelahnya, Aku sedikit memberikan pengetahuan yang aku tau mengenai homosexuality. “Ji, setau gw yah, homosexuality itu bukan pilihan, gaya hidup apalagi sampe ngajak-ngajak orang lain buat jadi kaya mereka. Para ilmuwan punya penelitian yang ngejelasin hal ini.” Ia menjawab dengan tegas pendapat ku yang ini dengan, “Intinya itu adalah SALAH dalam agama, Re. Kenapa sih loe ga yakin sama agama loe sendiri ? Loe udah coba buat ngasih tau temen loe yang gay itu kalau yang dia lakuin itu salah …….?

***

Perdebatan awal;  lingkungan, pilihan, sampai pada hasil penelitian. Menurut ku, semua orang punya perspektif masing-masing mengenai hal ini. Baik: 1. Mereka yang menganggap bahwa hal ini adalah sama dengan hal yang lainnya, tidak ada yang harus di perlakukan berbeda maupun, 2. Mereka yang memprotect diri mereka agar tidak salah bergaul demi prinsip yang mereka yakini. That’s about our point of view. I always fully respect for people who have a strong principle and faith to live their lifes.

Sebelum akhirnya kami terjun memperdebatkan hal ini ke ranah agama, ada satu hal yang aku yakini dalam diriku yaitu bahwa aku bukan Tuhan yang bisa memberikan judgement terhadap orang lain apakah ia benar atau salah selama kita masih bersama-sama tinggal di bumi hasil ciptaan Yang Maha Kuasa ini.

“….Manusia itu kan kodratnya di ciptakan berpasang-pasangan, Re. Laki dengan perempuan. Menurut gua, ya mereka emang salah karena melanggar kodrat nya. Mereka yang gay, itu ngedoktrin diri mereka sendiri untuk jadi kaya gitu.” Aku hanya menjawab, “Ji, kalau kita ngomongin hal kaya gini, dari segi agama, udah ga perlu ada perdebatan lagi. Karena kita semua tau, semua hal itu ga ada benernya dalam agama kita.” Lalu Aku sempat diam beberapa saat. Dan keluarlah kalimat ini “Ji, terus menurut loe, gimana dengan Love, cinta ? Mereka yang gay itu kan juga sama kaya kita, Ji. Layaknya orang yang menurut loe, normal? Cinta itu kan kadang buta, Ji. Mereka ga mengenal gender”. Aku mengatakan ini sementara hati ngeledek (elah Rek, kakuk amat, segala cinta buta di omongin).  ”Gua kan cowok ya, Re, ya pokoknya gatau ya, Re, gua ngerasanya ga aman aja kalau berteman sama yang gay”, ia menjawab dengan alasan yang cukup polos, ku rasa.

***

At the end i’m just kinda weak and feel no body when it comes to the part of humans being. No words.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s