curhat krl part 2

Gw terkadang suka bertanya-tanya, Apa sih sebenarnya yang begitu membuat orang-orang, khusunya para pengguna commuterline di seluruh relasi JABODETABEK ngotot banget harus sampe kantor ? Terutama di musim hujan, tepatnya banjir dimana-mana kaya gini, udah pasti bisa di tebak banget kondisi KRL yang dari mulai, gangguan sinyal lah, mogok lah, gangguan ini lah itu lah, sampe ada beberapa stasiun yang ke rendem banjir, dan otomatis jadwal KRL pun jadi berantakan, semraut ga keru-keruan deh pokoknya kaya post gw yang sebelum ini.

Ijin satu dua hari jika  memang itu adalah opsi terbaik di saat musim ganngguan KRL ini dan tidak ada hal yang lagi urgent banget, tentu saja boleh kan. Kecuali kalau memang kalian punya urusan yang urgent bgt di kantor sampe ga bisa nunggu besok nya lgi, ya mau bilang apa. Tapi masa iya, sebanyak itu orang urasannya urgent semua.

Ohiya, gangguan itu baru dari segi teknis pihak KAI yah. Lalai banget sih emang tuh mereka. Gw ga menyalahkan mereka 100 persen sih, tapi yaa kali udah tiap tahun tau bakal begini, masa iya mereka ga mengusahakan perbaikan yang kerasa banget gitu.

Oke deh, lewat dulu soal KAI yang payah. Kita bahas aja soal kita nih, para pengguna commuterline. Sebenarnya apa sih yang membuat kalian ngotot banget harus sampai kantor padahal kalian tau kan perjuangan yang harus kita tempuh kaya apa ?

Pertama, Dari mulai nunggu kereta di stasiun

“…Kami mohon maaf atas banyaknya keterlambatan dan antrian KRL hari ini, di karenakan bla bla bla (alasan yang paling ILIL – Itu lagi itu lagi).”

Udah akrab doong tentunya dengan morning greetings di stasiun yang kaya gini. Nah, iya, kan. Oke, wajar sih kalau kita masih berharap tetap bisa bakal sampai kantor, karena biasanya selama-lamanya KRL gangguan, paling kita cuma telat sejam dua jam, atau tiga jam lah yah. It’s not a big deal. Alasannya juga pasti bisa di terima oleh bos. Lagian, kalian juga tau, kalian ga mungkin sendirian telatnya , karena biasanya satu kantor itu, yang jadi anggota geng commuter lumayan banyak juga. Jadi, yaudah pasti kalian bakal tetap memilih duduk atau diri berpuluh menit supaya tetap bisa sampai kantor.

Kedua, Perjuangan memasuki gerbong KRL

Iya, akhirnya kereta datang juga nih. Agak legak lah ya, sedikit. Tapi, sebelum KRL nya bener-bener berhenti, sepanjang gerbong yang kalian liat cuma sekelibetan orang orang orang orang dan orang dan orang dan orang lagi. Kalian mulai mikir deh, bisa naik ga yah. Pas KRL nya bener-bener berhenti, kalian ga bisa langsung naik gitu ajakan. Karena aturannya adalah “Dahulukan penumpang yang turun”. Hiyaaaloh, mulai deh dorong-dorongan, berusaha mempertahankan posisi supaya kalian ga ke dorong sampai belakang. Ini adalah usaha yang bener banget. Keep it up, heroes ! Yes, we are heroes. Setelah udah gilirannya kalian naik, ketegangan belum boleh mereda, karena kalian harus berjuang untuk diri kalian sendiri. Dengan waktu yang diberikan kurang dari 3 menit, kalian udah harus bisa nemuin posisi aman untuk diri kalian sendiri. Anggeplah, ini kalian lagi beruntung bisa langsung dapet di kloter pertama. Fiyuh ..

Ketiga, Toleransi di dalam gerbong

Dengan ketegangan yang perlahan-lahan menyurut, walaupun belum bisa tenang sepenuhnya, kalian sudah dituntut untuk bisa menilai sikon di sekililing kalian. Kanan kiri depan belakang bawah dan atas. Eits, jangan  bilang ini berlebihan, ya. Karena secara tidak sadar, posisi kita memang terkadang membuat posisi orang lain tidak nyaman. Oke, harusnya mereka juga bisa memahami kondisi kita yang baru saja naik. Dengan segala rasa tegang dan panik yang masih tersisa, tentunya terkadang kita juga menjadi sedikit terpancing dengan gerakan-gerakan yang agak terkesan ‘nyolot’. Agak yah, belum tentu si orang ini beneran bermaksud untuk nyolot. Kalian paham kan yah, yang di maksud gerakan ‘nyolot’, ya pokoknya semua itu bisa kalian deteksi dari dorongan yang kalian rasakan sendiri di badan kalian. Kalau emang ternyata iya, yah jangan di ributin juga. Sedikit banyak, kita merasakan juga apa yang mereka rasakan. Jadi, cobalah untuk menahan diri. Pahami dan maklumilah, wahai Heroes :”))

Ps:  yang merasa diri nya tidak memiliki toleransi yang cukup tinggi, lupakan comuterline sebagai alat transportasi kalian sehari-harinya.

Keempat, Berebutan oksigen di dalam gerbong

Ini untuk kondisi KRL yang beneran bapuk-sebapuk bapuk nya bapuk. Tapi pliss, jangan marah-marah sama KRL nya ya. Karena itu ga akan menyelesaikan masalah. Justru malah ngebuat kalian makin sesak dan sulit bernafas. Jika kondisi sudah mulai membaik dan normal lagi, sampaikan lah keluhan ini kepada pihak KAI nya langsung. Dan semoga saja mereka mengindahkan teguran layanan yang kurang manusiawi ini. Iya, AC KRL mati, kaca sulit di buka, penumpang menumpuk. Bahkan bergerak sedikit saja pun susah. Sudah kebayang kan kondisi kita di dalam seperti apa dan bagaimana rasanya. *negbayangin kita ini kaya ikan di pasar yang cuma bisa mangap glepek2an* Jadi jangan heran, kalau kalian ngeliat petugas di stasiun lari bawa-bawa tandu ya. Itu pasti sudah memakan korban pingsan. Hah, rasanya hal terbaik ketika dalam kondisi KRL yang seperti ini adalah bisa mangap-mangap depan kaca jendela yang terbuka lebar.

Kelima, Perjuangan keluar dari gerbong KRL

Oke, kalian udah cukup canggih bisa bertahan sampai sejauh ini. Saluts ! Tapi tadi pagi, aku menyerah dan memilih untuk menyudahi perjuangan ku sampai di stasiun Pasar Minggu saja. Ajegilee deh itu orang-orang. Bener-bener di shangghuphin! Kalau udah sampai tahap ini, artinya yang perlu kalian lakukan adalah, menyiapkan diri berada di depan pintu, 2 atau 3 stasiun sebelum kalian turun. Udah, pokoknya itu adalah posisi yang paling aman, agar kalian bisa turun di stasiun tujuan.

Dan ada beberapa hal lain juga sih yang mau gw sampaikan, yang mungkin bisa kalian pertimbangkan sedikit sih, mungkin nantinya.

Gini, kalian sadar ga, ketika kita dalam posisi yang di kelilingi oleh orang-orang sebanyak itu, bersentuhan dan juga melihat berbagai macam ekspresi dari mereka, saat itu juga ada yang namanya pertukaran energi diantara kita. Gw sih ga paham banget gimana prosesnya, yang gw tau adalah bahwa setiap manusia itu memiliki energi. Baik energi yang menyemangatkan maupun energi yang kurang menyemangatkan. Tergantung gimana kondisi diri kita saat itu.

Jadi, anggeplah gini yah, kalian berhasil nih sampai di kantor, dengan perkiraan yang sudah kalian duga sebelumnya. Kalian telat, 1 sampai 2 jam, misalkan. Ngasih alesan ke bos, bos nerima, beres dan kalian baru bisa duduk lega di bangku kerja kalian. Lega karena akhirnya .. ya legaa .. bener-bener lega, ga sumpek-sumpek an, ga berebutan oksigen, ga perlu nahan-nahan buat ga ngomel. Lega deh pokoknya. Tapi, apakah kalian sadar, energi yang ada di tubuh kalian sekarang ini sudah bercampur aduk dengan energi orang-orang yang bersama kalian di dalam gerbong tadi. Energi yang tadinya saat keluar rumah, kalian sangat bersemangat untuk menuntaskan segala kerjaan di kantor, semangat untuk ngobrol-ngbrol iseng sama temen kantor atau pun sekedar semangat karena  bikin kopi di dapur kantor lebih asyik. Semua energi baik ini mungkin sudah tidak sepenuhnya ada dalam tubuh kalian. Karena, ya itu tadi. Kalian sudah merasa lemas dan capek sendiri saat berjuang untuk bisa sampai di kantor. Bayangan akan orang-orang tadi, bayangan akan bagaimana rasanya kalian di dalam sana, bayangan akan keluhan dan dumelan orang-orang. Semua itu masih menjadi sesuatu yang memengaruhi energi dalam tubuh kalian. Lalu efektif kah kalian ketika mengerjakan pekerjaan kantor ?  Well, cuma kalian kan yang paham gimana kondisi diri kalian sendiri.

Oh, Belum lagi, memikirkan perjuangan untuk pulang. Waw, we are really real Heroes yah! Yeay!

Oke, itu aja sih curhatan gw untuk hari ini.  Dan ohiya, FYI karena hari ini gw mutusin untuk balik lagi kerumah dan milih untuk sekedar duduk manis sambil minum steam milk, makanin pie strawbery di tous les jours terus, sampe akhirnya gw nambah sebotol mojito. Kemudian baca-baca elitedaily.com, buzzfeed, bales email, dan ngerjain kerjaan sambil juga merhatiin sekelompok anak kuliahan yang lagi diskusi pake bahasa Inggris dan mereka jago banget ngomongnya, terus bentar-bentar curi-curi pandang sama bule yang biasa gw liat tapi belum juga kenalan sampe gini hari, ternyata dia lagi asik baca buku kuliahnya, dan gw ngerasa memang beginilah seharusnya, mengumpulkan energi baik gw untuk esok harinya.

Tetap semangat untuk kita, para hero . Eh, ga hero juga sih sebutannya.. tapi yaa anggep aja gitu deh ya … :”))

Note : Pengalaman ini gw alami selama naik di gerbong khusus wanita.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s