Love Undetectable

“If love is sudden, friendship is steady. At the moment of meeting a friend for the first time, we might be aware of an immediate “click” or a sudden mutual interest. But we don’t “fall in friendship”. And where love is often at its most intense in the periode before the lover is possessed, in the exquisite suspense of the chase, and the stomach-fluttering nervousness of the capture, friendship can only really be experienced when both friends are fully used to each other. For friendship is based on knowledge, and love can be based on mere hope.. You can love someone more than you know him/her, and he can be perfectly loved without being perfectly known. But the more you know a friend, the more a friend he/her is

“Love is a supremely jealous thing. It brooks no rival and obliterates every distraction. It seems to transport the human being – who is almost defined by time and morality – beyond the realm of both age and death. Which is why it is both so irresistible and so delusory”

“Love is about control and loss of control. In love, we give ourselves up to each other. We lose control or, rather, we cede control to another, trusting in a way we would never otherwise trust, letting the other person hold the deepest part of our being in their hands, with the capacity to hurt it mortally”

“With all that’s happened to us – together and apart – i’m inclined to think that somehow we were chosen to know each other, to help sustain each other, and to teach each other about the mysteries of loving, living, dying. Somehow i was able to love you wholly, and this gave me great strenght to face the greatest fears i have known”

-Via Ms Popova-

SURAT CINTA BRAD PITT UNTUK JOLIE

Gw sebenarnya udah pasrah aja sih kalau nantinya kita berdua emang harus segera pisah… tapi kemudian gw mutusin untuk justru disinilah peran gw sebagai pendamping …”

itulah kira-kira yang Brad Pitt tulis dalam surat cintanya untuk Angelina Jolie. Gw nemuin artikel ini pas lagi nyari-nyari referensi buat artikel kantor. Eh, tetiba aja nemu ini.

pas gw baca isi nya… itu gw ngerasain banget perasaan campur aduk di dalam hati gw ini. Gatau yah, kaya meleleh-meleleh gimana gitu jantung ku.. ehe hehe. Padahal kata-kata yang di tulis Brad Pitt di surat nya itu simpel dan sederhana banget loh. Kaya gini nih misalnya…

“Berat badan dia turun sampe 30 kg, jadi berat badannya di umur 35 ini cuma 90 kg. Dia kurus banget dan nangis terus. Dia juga kelihatan ga bahagia dan suka menahan sakit di kepala nya”

“Kalau malem, tidurnya suka ga nyenyak, jadi dia malah tidur pas udah paginya udah gitu cepet banget ngerasa capeknya. Gw ngerasa kalau hubungan kita ini beneran udah di ujung tanduk banget deh”

Terus yang bikin gw lebih terenyuh lagi adalah saat Brad Pitt bener-benar setia nemenin Jolie di masa-masa kelam nya saat itu.

“Kecantikan istri gw ga memancar lagi dari raut wajahnya, entah pergi kemana, mata nya juga jadi ada kantong hitam nya, dia juga suka jedotin kepala nya sendiri ke tembok, pokoknya dia bener-bener udah ga bisa ngurusin diri sendiri nya lagi, Bahkan dia juga gamau pergi shooting dan gamau di atur mesikpun demi kebaikannya”

Gw baca isi surat cinta Brad Pitt untuk Angelina Jolie ini sambil ngebayangin foto selfie mereka waktu di Oscar kemarin, terus juga masih jelas banget di kepala gw, ekspresi Brad Pitt pas yang lagi ngelahap Pizza. Loe liat juga ga ? kalau liat, mungkin ga sih kalau kita punya pandangan yang sama ? Karena gw pengen bilang, “You are truly awesome, Pitt !”

Kalau baca keseluruhan isi suratnya, dari awal sampe akhir, kayaknya Brad Pitt nulis nya itu pas Angelina Jolie lagi ‘koleps-kolepsnya’ pasca dia dapet hasil pemeriksaannya deh. Karena hasil pemeriksaan nya bilang kalau, dia berpotensi terkena kanker payudara lebih dari 80% dan kanker rahim 50%. Yang mana akhirnya kita semua tau sendiri kan, dia ngelakuin Mastectomy, yaa pokoknya itu istilah kedokteran yang dimana dilakukan tindakan pengangkatan buah dada, biar memperkecil atau menghilangkan potensi kanker tadi. Dan Angelina Jolie melakukan Mastectomy itu di kedua payudaranya. Waaw !

Tapi gw ga heran, kenapa sampe sekarang, bahkan setelah operasi Mastectomy yang di lakukan Jolie,  Brad Pitt tetap cinta dan mungkin aja malah makin cinta sama Angelina Jolie. Karena kita akhirnya di kasih tau bagaimana sebenarnya perasaan Brad Pitt bisa bersama seorang wanita seperti Jolie ..

“Dia adalah idola dari separuh pria dan wanita yang ada di muka bumi ini, dan gw adalah salah satu yang diizinkan bisa ada disamping nya dan memeluk tubuhnya”

“Gw suka banget bawaain dia bunga, terus menciumnya. Gw juga suka memberi dia kejutan, pokoknya hal-hal yang bisa membuat dia senang dan bahagia kapanpun dan apapun itu, akan gw lakukan. Gw selalu memberikan dia hadiah dan gw yakinin diri gw sendiri kalau gw akan menyerahkan seluruh hidup gw cuma untuk dia. Saat di depan publik pun gw cuma mau ngomongin soal dia, dia dan semua tentang dia”

Dan, akhirnya usaha Brad Pitt yang dilandaskan cinta dan ketulusan hatinya untuk Angelina Jolie itu bisa membuat dia percaya diri untuk bilang…

“Saat ini dia sangat jauh lebih baik dari sebelum nya. Dia terlihat gemukan, ga lagi suka nerveous dan bahkan dia lebih mencintai gw dari sebelum-sebelumnya, yang mana gw sendiri ga sadar kalau cinta nya itu begitu besar. Dan gw pun akhirnya menyadari satu hal : Seorang wanita adalah sebuah cerminan dari pendampingnya, jika loe mencintai dia dari titik yang paling gila, maka dia pun akan menjadi seperti itu.”

brangelina

Ahhhhh.. Merekaa kereen banget yaah… Cinta mereka nya itu loooh :”))))

Sumbernya nih

The Question

You don’t really have to have knowledge – what you have to have is curiosity”

“The question that we ask ourselves is, what protects you ? What protects you in this world from sadness and from the loss an ability to do something ? For me, what protects me…. is work and love. And i think those two things cover pretty much every single thing. Because what you do, who you love, what you love, and what you do with your time is really the only question that you have to answer” – Via Ms. Popova

 

story KRL PART 1

Apa yang akan kalian lakukan jika kalian mengetahui ada seseorang atau sekelompok orang yang melanggar aturan ataupun ada tingkah mereka yang membuat kalian merasa tidak nyaman ? Menegur, membentak, mendumel atau that’s not my business at all alias Bomat.

Oke, hiraukan saja pilihan yang gw buat. Karena ga ada satupun pilihan di atas yang akan kalian pilih. Iya kan.

Well, kejadian-kejadian kaya gini sebenernya udah sering banget kan terjadi di sekitar kita. Tapi, keseringan dari gw dan kalian juga (mungkin) paling cuek dan akhirnya di anggep lalu gitu aja. Cuma kayaknya menarik deh kalau gw bahas tentang bagaimana sebenernya kita dapat belajar banyak hal dari kejadian-kejadian tersebut, mulai dari mengenal kepribadian seseorang dari cara mereka merespon kejadian-kejadian seperti yang gw tanyain tadi dan juga bagaimana memahami kondisi dari berbagai macam orang di sekitar kita di saat itu. Sehingga, menurut gw ini salah satu cara yang efektif juga untuk membuat diri dan lingkungan kita sendiri menjadi lebih baik lagi :”))

Oke, jadi kejadian ini gw alamin di satu hari yang sama, tepatnya kemarin, Rabu 12 Februari 2014. Pertama, terjadi di pagi hari menuju kantor. Bagaimanapun, gw harus bilang kalau KRL telah memberikan banyak cerita nya untuk diri gw. Termasuk kejadian yang satu ini.

“Mas, salah masuk nih, ini gerbong khusus wanita”, tegur seorang wanita saat itu, yang langsung di samber sama wanita-wanita lain di dekat nya, “iya mas, jalan aja ke gerbong sebelah tuh, nanti di tegur satpam loh.” Lalu ada seorang wanita lagi yang berdiri tepat di samping Mas ini, berbisik pelan, “yaudah, gapapa di sini aja, tanggung”.

Eh, bukan ! Wanita yang berbisik ini bukan malah berencana untuk ‘nyewa’ Mas nya ini ya. Iya, Mas ini ga sendirian masuk ke gerbong yang (mungkin) akan membuat dia ga mau lagi masuk ke situ untuk kedua kalinya. Dia naik bersama seorang wanita yang berbisik pelan itu. Entah wanita itu adalah ibu nya, kakaknya, pacarnya, tantenya, atau bisa apapun apa-apa nya si Mas ini, pokoknya mereka saling kenal. Sambil terus keretanya berjalan, Mas dan partner wanita nya ini pun terus mendapatkan ‘sambutan’ dari para wanita tangguh di dalam gerbong untuk segera pindah ke gerbong sebelah, karena yah memang sudah seperti itu lah seharusnya. Kita harus saling mengingatkan, jika ada yang melanggar aturan. Contoh yang baik kan, yang gw dan kalian bisa dapat dari KRL, di gerbong wanita khususnya.

Namun, sudah beberapa stasiun di lewati, Mas dan partner wanita nya ini belum juga turun ataupun ada gelagat dari si Mas yang menunjukkan kalau dia akan pindah ke gerbong sebelah. Mas ini tetap mematung, berdiri sambil berpegangan dengan mata menerawang ke luar. Gw pun ngomong sendiri dalam hati, “jadi tanggung itu maksudnya gimana sik ?” Karena gw pikir, Tanggung yang di sebutkan oleh partner wanita si Mas ini adalah mereka cuma lewatin 2 atau 3 stasiun doang terus turun, eh ternyata udah lewat 3 stasiun mereka belum turun juga. Dan akhirnya, pas di stasiun ke empat, ada satpam stasiun yang ngeliat dan dengan suara lantang dan mata melotot, bilang, “Mas, mas ! pindah ke sana aja Mas, ini gerbong khusus wanita !!” Dan dengan sigapnya beberapa wanita di dekatnya, berkata, “tuhkan bener, ada satpamnya.” Kemudian, tanpa anya inyu, si Mas nyelenong keluar, pindah gerbong.

Oke, kira-kira seperti itulah keseluruhan cerita nya. Dan, di sela-sela kejadian tersebut, ini lah yang terjadi di kepala gw.

Selama kereta berjalan, gw ngeliatin Mas satu ini dan juga partner wanitanya, yang posisinya cuma beda satu langkah di depan gw. Ngeliatin semua orang yang juga ada di sekeliling gw dan gw bertanya sendiri dalam hati… Sebenernya kenapa ya para wanita ini ngotot banget kalau ga boleh ada satu pria pun yang boleh masuk ke gerbong mereka ? Karena, yaudah sih, si Mas ini juga ga bakalan berani macem-macem ke kita, hei lediieeeess. Tapi, itu ga bikin gw puas, jadi gw coba buat skenario gw sendiri untuk ngejawab pertanyaan gw tersebut.

Oke, alasan terbesar para wanita bersikap dingin dan jutek terhadap si Mas ini adalah karena isu pelecehan seksual. Para wanita di sana ternyata cukup concern akan isu-isu pelecehan seksual yang cukup banyak terjadi di transportasi publik, apalagi KRL. Lagian kita, para wanita ini berpikirnya kalau gerbong khusus wanita ini di buat ya, memang untuk mengurangi atau bahkan menghindari pelecehan yang akan terjadi pada wanita. Maka nya, ga ada toleransi sedikitpun yang membolehkan pria ada di dalam gerbong khusus wanita ini. Jadi, itu lah pakem yang ada di pikiran gw dan juga para wanita-wanita ini, tentunya. Tapi, dengan kondisi sebenarnya di gerbong khusus wanita, gw sih mikirnya ga ada yang berani juga mau bertindak macem-macem sama cewek-cewek di dalam sana. Bisa habis lah itu cowok yang beneran berani nekad mau coba macem-macem di sana. Mungkin kalau di pukuli sama cewek-cewek disana sih sakitnya ga seberapa ya buat cowok, tapi justru bukan itu yang gw rasa di takuti para cowok, melainkan karena aksi teriak-teriakan dari para wanita lah yang menjadi salah satu ketakutan terbesar mereka. Laki-laki mana yang tahan di teriakin cewek, apalagi berpuluh-puluh cewek begitu. Itu mungkin akan lebih membuat mental si Cowok yang nekad ini yang bakalan sakit akibat teriakan melengking dari para cewek-cewek di KRL. Dan gw rasa laki ‘dungu’ sekalipun ga bakal berani ngambil resiko kaya gini.

Oke, itu sih yang ada dalam pikiran gw. Dan gw harap cukup gw dan beberapa cewek aja yang berpikir kaya gini.

Dan akhirnya gw pun sedikit paham, kenapa para cewek ngotot banget untuk sama sekali ga toleran terhadap para pria yang ada di gerbong khusus wanita. Ya, walaupun kebanyakan alasan pria bisa ada di dalam gerbong khusus wanita adalah karena mereka memang tidak tau sama sekali yang berarti bahwa mereka tidak sengaja……atau yaa… itu tadi, jarang banget ada yang sengaja mau macem-macem di sana. Jarang bukan berarti ga ada ya.

Apa yang di lakukan para wanita di gerbong khusus wanita tadi itu adalah sesuatu yang sudah sangat benar. Banget. Karena tentunya kita tidak ingin menunggu untuk baru peduli setelah kejadian yang tidak ingin kita alami benar-benar terjadi, bukan. So… finally, i got my answer. Yeay ! :”))

PS : Kejadian tersebut, terjadi saat petugas KRL tidak ada.  

Lanjut, ke kejadian kedua. Terjadi di hari yang sama, cuma di jam rame-rame nya orang pulang kantor. Masih di gerbong khusus wanita.

“Suruh bangun aja, Mbak.. cuek banget sih,” si ibu ngomong dengan nada tinggi, sambil nengok ke arah dua anak sekolahan yang sedang asik ngbrol sambil duduk lesehan di bawah.

Di gerbong paling belakang, tepatnya di dinding ruangan masinis, ada dua anak sekolah yang duduk lesehan di bawah sambil senderan. Gw, mereka dan si ibu ini naik dari stasiun yang sama, stasiun kota. Teguran pertama tadi itu, sudah di layangkan oleh si ibu yang berdiri persis banget depan gw ini, tepatnya juga persis di depan pintu, sejak kita menuju stasiun Mangga Besar (kalau tidak salah). Kemudian, penumpang sudah mulai banyak, dan ada beberapa dari mereka yang merasa posisi berdirinya tidak nyaman karena adanya dua anak tersebut yang duduk lesehan. Di saat kereta menuju stasiun Juanda, dan penumpang terus bertambah, si Ibu mulai agak naik pikam, dan bilang, “Suruh bangun aja Mbak maka nya, masa kita mau aja di susahin sama orang lain. Tuh kan masih cuek aja lagi !” Si ibu melanjutkan teguran nya itu sambil beberapa kali nengok ke arah anak dua itu. *Mata judes*

Well, gw ga inget persis si Ibu berusaha mengegur mereka berapa kali. Tapi yang gw inget, ga ada satu pun bahasa teguran yang dia gunakan itu bernada lembut, layaknya sosok ibu kepada anaknya atau minimal, ga perlu juga dengan nada tinggi. Karena sebenernya gw udah mulai merasa terganggu juga dengan cara si Ibu menegur dua anak sekolahan ini.

Dan.. mulai lah gw bertanya dalam hati.. kenapa si Ibu galak banget ya, dua anak itu kan masih anak sekolahan, kan dia bisa negurnya dengan cara yang lebih kalem, ya anggep aja kaya ngomong ke anak sendiri. Kemudian, Ini lah skenario yang gw buat…

Si Ibu ini kan bilang, “… masa kita mau aja di susahin sama orang lain.” Dari pernyataannya ini, gw mikirnya mungkin si Ibu lagi kurang baik harinya, karena di hari itu dia lagi dapet apes yang ketumpahan dari orang lain, tapi ga sempet ngomong apa-apa ke orang yang udah bikin dia apes itu. Maka nya, tanpa dia sadar, mungkin ucapan dan intonasi yang dia keluarkan itu adalah salah satu bentuk kekecewaan nya yang sebenarnya ingin ia curahkan ke orang tersebut.

Kalau di lihat dari sisi ini, sebenarnya si Ibu adalah tipikal orang yang peduli. Dia tidak ingin ada orang lain merasakan hal yang tidak mengenakan bagi dirinya terlebih karena itu adalah akibat dari ulah orang lain, seperti yang dia rasakan di hari itu. Jadi maka nya si Ibu lebih milih untuk menggunakan cara yang benar-benar Straight tanpa ada aa-i-u lagi untuk menegur dua anak sekolahan tadi.

Tapi sayangnya, cara si Ibu menegur dua anak sekolahan tadi tidak berhasil membuat dua anak sekolahan tadi bangun dari asiknya percakapan kecil yang mereka lakukan. Sehingga, akhirnya ada seorang wanita, yang berinisiatif untuk berbicara langsung ke kedua anak tersebut dan bilang, “Dek, bangun Dek, ini udah mulai rame, ini ibu-ibu yang lain aja pada berdiri juga.” Dan.. yaap, kedua anak tersebut bangun dan berdiri dan mereka masih tetap asik melanjutkan percakapan kecilnya, tanpa ada rasa canggung.

Mungkin, kalau si Ibu tidak memulai dengan cara yang seperti itu terlebih dahulu, gw atau mungkin juga banyak wanita-wanita lain di sana tidak akan tau mana cara yang lebih baik untuk membuat kedua anak tersebut bangun dan berdiri. Kecuali, mereka memang sadar dengan sendirinya, yaa. Tapi, kenyataan berkata, children is just children.

Fiuuuhh .. panjang juga yah ternyata cerita gw.. dua kejadian ini padahal berlangsung nya cuma beberapa puluh menit doang. Ckckckckckck….

Hhehehehehe.. Well..

Hope you doesn’t get bored, yaah GUYS :”))

 

curhat krl part 2

Gw terkadang suka bertanya-tanya, Apa sih sebenarnya yang begitu membuat orang-orang, khusunya para pengguna commuterline di seluruh relasi JABODETABEK ngotot banget harus sampe kantor ? Terutama di musim hujan, tepatnya banjir dimana-mana kaya gini, udah pasti bisa di tebak banget kondisi KRL yang dari mulai, gangguan sinyal lah, mogok lah, gangguan ini lah itu lah, sampe ada beberapa stasiun yang ke rendem banjir, dan otomatis jadwal KRL pun jadi berantakan, semraut ga keru-keruan deh pokoknya kaya post gw yang sebelum ini.

Ijin satu dua hari jika  memang itu adalah opsi terbaik di saat musim ganngguan KRL ini dan tidak ada hal yang lagi urgent banget, tentu saja boleh kan. Kecuali kalau memang kalian punya urusan yang urgent bgt di kantor sampe ga bisa nunggu besok nya lgi, ya mau bilang apa. Tapi masa iya, sebanyak itu orang urasannya urgent semua.

Ohiya, gangguan itu baru dari segi teknis pihak KAI yah. Lalai banget sih emang tuh mereka. Gw ga menyalahkan mereka 100 persen sih, tapi yaa kali udah tiap tahun tau bakal begini, masa iya mereka ga mengusahakan perbaikan yang kerasa banget gitu.

Oke deh, lewat dulu soal KAI yang payah. Kita bahas aja soal kita nih, para pengguna commuterline. Sebenarnya apa sih yang membuat kalian ngotot banget harus sampai kantor padahal kalian tau kan perjuangan yang harus kita tempuh kaya apa ?

Pertama, Dari mulai nunggu kereta di stasiun

“…Kami mohon maaf atas banyaknya keterlambatan dan antrian KRL hari ini, di karenakan bla bla bla (alasan yang paling ILIL – Itu lagi itu lagi).”

Udah akrab doong tentunya dengan morning greetings di stasiun yang kaya gini. Nah, iya, kan. Oke, wajar sih kalau kita masih berharap tetap bisa bakal sampai kantor, karena biasanya selama-lamanya KRL gangguan, paling kita cuma telat sejam dua jam, atau tiga jam lah yah. It’s not a big deal. Alasannya juga pasti bisa di terima oleh bos. Lagian, kalian juga tau, kalian ga mungkin sendirian telatnya , karena biasanya satu kantor itu, yang jadi anggota geng commuter lumayan banyak juga. Jadi, yaudah pasti kalian bakal tetap memilih duduk atau diri berpuluh menit supaya tetap bisa sampai kantor.

Kedua, Perjuangan memasuki gerbong KRL

Iya, akhirnya kereta datang juga nih. Agak legak lah ya, sedikit. Tapi, sebelum KRL nya bener-bener berhenti, sepanjang gerbong yang kalian liat cuma sekelibetan orang orang orang orang dan orang dan orang dan orang lagi. Kalian mulai mikir deh, bisa naik ga yah. Pas KRL nya bener-bener berhenti, kalian ga bisa langsung naik gitu ajakan. Karena aturannya adalah “Dahulukan penumpang yang turun”. Hiyaaaloh, mulai deh dorong-dorongan, berusaha mempertahankan posisi supaya kalian ga ke dorong sampai belakang. Ini adalah usaha yang bener banget. Keep it up, heroes ! Yes, we are heroes. Setelah udah gilirannya kalian naik, ketegangan belum boleh mereda, karena kalian harus berjuang untuk diri kalian sendiri. Dengan waktu yang diberikan kurang dari 3 menit, kalian udah harus bisa nemuin posisi aman untuk diri kalian sendiri. Anggeplah, ini kalian lagi beruntung bisa langsung dapet di kloter pertama. Fiyuh ..

Ketiga, Toleransi di dalam gerbong

Dengan ketegangan yang perlahan-lahan menyurut, walaupun belum bisa tenang sepenuhnya, kalian sudah dituntut untuk bisa menilai sikon di sekililing kalian. Kanan kiri depan belakang bawah dan atas. Eits, jangan  bilang ini berlebihan, ya. Karena secara tidak sadar, posisi kita memang terkadang membuat posisi orang lain tidak nyaman. Oke, harusnya mereka juga bisa memahami kondisi kita yang baru saja naik. Dengan segala rasa tegang dan panik yang masih tersisa, tentunya terkadang kita juga menjadi sedikit terpancing dengan gerakan-gerakan yang agak terkesan ‘nyolot’. Agak yah, belum tentu si orang ini beneran bermaksud untuk nyolot. Kalian paham kan yah, yang di maksud gerakan ‘nyolot’, ya pokoknya semua itu bisa kalian deteksi dari dorongan yang kalian rasakan sendiri di badan kalian. Kalau emang ternyata iya, yah jangan di ributin juga. Sedikit banyak, kita merasakan juga apa yang mereka rasakan. Jadi, cobalah untuk menahan diri. Pahami dan maklumilah, wahai Heroes :”))

Ps:  yang merasa diri nya tidak memiliki toleransi yang cukup tinggi, lupakan comuterline sebagai alat transportasi kalian sehari-harinya.

Keempat, Berebutan oksigen di dalam gerbong

Ini untuk kondisi KRL yang beneran bapuk-sebapuk bapuk nya bapuk. Tapi pliss, jangan marah-marah sama KRL nya ya. Karena itu ga akan menyelesaikan masalah. Justru malah ngebuat kalian makin sesak dan sulit bernafas. Jika kondisi sudah mulai membaik dan normal lagi, sampaikan lah keluhan ini kepada pihak KAI nya langsung. Dan semoga saja mereka mengindahkan teguran layanan yang kurang manusiawi ini. Iya, AC KRL mati, kaca sulit di buka, penumpang menumpuk. Bahkan bergerak sedikit saja pun susah. Sudah kebayang kan kondisi kita di dalam seperti apa dan bagaimana rasanya. *negbayangin kita ini kaya ikan di pasar yang cuma bisa mangap glepek2an* Jadi jangan heran, kalau kalian ngeliat petugas di stasiun lari bawa-bawa tandu ya. Itu pasti sudah memakan korban pingsan. Hah, rasanya hal terbaik ketika dalam kondisi KRL yang seperti ini adalah bisa mangap-mangap depan kaca jendela yang terbuka lebar.

Kelima, Perjuangan keluar dari gerbong KRL

Oke, kalian udah cukup canggih bisa bertahan sampai sejauh ini. Saluts ! Tapi tadi pagi, aku menyerah dan memilih untuk menyudahi perjuangan ku sampai di stasiun Pasar Minggu saja. Ajegilee deh itu orang-orang. Bener-bener di shangghuphin! Kalau udah sampai tahap ini, artinya yang perlu kalian lakukan adalah, menyiapkan diri berada di depan pintu, 2 atau 3 stasiun sebelum kalian turun. Udah, pokoknya itu adalah posisi yang paling aman, agar kalian bisa turun di stasiun tujuan.

Dan ada beberapa hal lain juga sih yang mau gw sampaikan, yang mungkin bisa kalian pertimbangkan sedikit sih, mungkin nantinya.

Gini, kalian sadar ga, ketika kita dalam posisi yang di kelilingi oleh orang-orang sebanyak itu, bersentuhan dan juga melihat berbagai macam ekspresi dari mereka, saat itu juga ada yang namanya pertukaran energi diantara kita. Gw sih ga paham banget gimana prosesnya, yang gw tau adalah bahwa setiap manusia itu memiliki energi. Baik energi yang menyemangatkan maupun energi yang kurang menyemangatkan. Tergantung gimana kondisi diri kita saat itu.

Jadi, anggeplah gini yah, kalian berhasil nih sampai di kantor, dengan perkiraan yang sudah kalian duga sebelumnya. Kalian telat, 1 sampai 2 jam, misalkan. Ngasih alesan ke bos, bos nerima, beres dan kalian baru bisa duduk lega di bangku kerja kalian. Lega karena akhirnya .. ya legaa .. bener-bener lega, ga sumpek-sumpek an, ga berebutan oksigen, ga perlu nahan-nahan buat ga ngomel. Lega deh pokoknya. Tapi, apakah kalian sadar, energi yang ada di tubuh kalian sekarang ini sudah bercampur aduk dengan energi orang-orang yang bersama kalian di dalam gerbong tadi. Energi yang tadinya saat keluar rumah, kalian sangat bersemangat untuk menuntaskan segala kerjaan di kantor, semangat untuk ngobrol-ngbrol iseng sama temen kantor atau pun sekedar semangat karena  bikin kopi di dapur kantor lebih asyik. Semua energi baik ini mungkin sudah tidak sepenuhnya ada dalam tubuh kalian. Karena, ya itu tadi. Kalian sudah merasa lemas dan capek sendiri saat berjuang untuk bisa sampai di kantor. Bayangan akan orang-orang tadi, bayangan akan bagaimana rasanya kalian di dalam sana, bayangan akan keluhan dan dumelan orang-orang. Semua itu masih menjadi sesuatu yang memengaruhi energi dalam tubuh kalian. Lalu efektif kah kalian ketika mengerjakan pekerjaan kantor ?  Well, cuma kalian kan yang paham gimana kondisi diri kalian sendiri.

Oh, Belum lagi, memikirkan perjuangan untuk pulang. Waw, we are really real Heroes yah! Yeay!

Oke, itu aja sih curhatan gw untuk hari ini.  Dan ohiya, FYI karena hari ini gw mutusin untuk balik lagi kerumah dan milih untuk sekedar duduk manis sambil minum steam milk, makanin pie strawbery di tous les jours terus, sampe akhirnya gw nambah sebotol mojito. Kemudian baca-baca elitedaily.com, buzzfeed, bales email, dan ngerjain kerjaan sambil juga merhatiin sekelompok anak kuliahan yang lagi diskusi pake bahasa Inggris dan mereka jago banget ngomongnya, terus bentar-bentar curi-curi pandang sama bule yang biasa gw liat tapi belum juga kenalan sampe gini hari, ternyata dia lagi asik baca buku kuliahnya, dan gw ngerasa memang beginilah seharusnya, mengumpulkan energi baik gw untuk esok harinya.

Tetap semangat untuk kita, para hero . Eh, ga hero juga sih sebutannya.. tapi yaa anggep aja gitu deh ya … :”))

Note : Pengalaman ini gw alami selama naik di gerbong khusus wanita.

 

Curhat KRL PART 1

“…… kami mohon maaf untuk jadwal KRL yang banyak mengalami keterlambatan dan ketidaknyamanan Anda dalam menggunakan KRL...”

Pagi ini, duduk di stasiun UI kurang lebih satu jam-an, dan sudah mendengar kalimat di atas lebih dari 15 kali di ucapkan oleh si operator stasiun. Biasanya sih, untuk para commuterian (para pejuang yang naik dan turun kereta) pasti nya udah paham banget gimana jadinya perjalanan mereka menggunakan commuterline jikalau langit sedang bermurah hati memberikan kesejukan berupa air hujan yang jatuh ke bumi. Satu kata yang mungkin dapat menggambarkan hubungan antara commuterline dan kami di saat seperti ini adalah SEMRAUT.

Bisa di bayangkan …

commuterline

Poto ini diambil dari twitter @DollySW

Cantiknya pemandangan tersebut. Perpaduan antara warna pink, ungu dan hijau nya. Ada pula pohon kelapa yang menjulang kokoh .. oh, satu lagi, awannya juga cukup adem. Terus SEMRAUT nya manaaaaa !!

Memang nya poto di atas itu belum cukup menggambarkan ke-SEMRAUT-an yak ? Belum ? Masa sih.. Jangan bilang, kalian cuma mau liat gambar-gambar yang kaya gini ..

commuterline

via @udabhalink

commuterline

via @bcpermata

commuterline

via @dwgwisnu

commuterline

via @ozzan

Tentu saja bukan penampakan-penampakan seperti itu kan yang kalian kira dari ke-SEMRAUTAN-an antara KRL dengan kita, para commuterian ? Heeyyy, penampakan-penampakan seperti itu mah kan sudah biasa bagi kita, bukan.. Take it iziiiy, darling :”)

***

Iya. Begitulah. Entah kenapa para commuterian ini, yang saat ini secara sepihak, aku memutuskan mewakili mereka di sini, memiliki perasaan yang tidak lagi heran terhadap keadaan seperti gambar-gambar di atas. Kita sudah ‘dibiasakan’ untuk (harus) memaklumi layanan dari transportasi publik yang kita gunakan sehari-harinya. Oke, memang tidak setiap hari sih, gambar-gambar di atas menjadi cerita keluh kisah ketika kita sampai di kantor, namun ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan dalam diri ku, yaitu : apakah benar cuma aku saja yang terkadang justru malah rindu akan suasana dan penampakan seperti ini ?

Ketika merasakan sendiri berada dalam kondisi seperti itu, aku melihat begitu banyaknya ekspresi dari wajah orang-orang, melihat bagaimana mereka sibuk mengabarkan kalau mereka telat sampai kantor, melihat mereka yang melangkahkan kaki nya keluar stasiun alias pulang lagi, mendengar beberapa percakapan di sekeliling, ataupun cuma sekedar saling menyumbingkan senyum karena tidak sengaja berpapasan mata. Dan masing-masing kami sudah cukup paham arti dari senyuman itu.  Namun, kami hanya bisa tetap berdiri ataupun duduk menunggu. Bahkan saat kami melihat jam di tangan, lalu merasa kalau jarum jam tersebut berputarnya terlalu cepat. Karena selama beberapa puluh menit, kami masih di posisi yang sama, menanti commuterline datang dan segera membawa kami ke tujuan. Iya, hubungan kami dan commuterline memang menjadi semraut di saat musim hujan seperti ini. Namun, kami tau bahwa kami pun tidak bisa saling membenci.